Dispora Kota Bengkulu Perkuat Pembinaan Komunitas BMX Lokal
Sub Koordinator Pemberdayaan Pemuda Dispora Kota Bengkulu, Sriwono, S.H., M.H., saat di temui di kantor Dispora Kota Bengkulu Kamis 26 Februari 2026. ARIF HIDAYAT/RB--
Atraksi dan latihan rutin mereka juga menjadi tontonan alternatif di ruang publik. Kehadiran komunitas ikut menghidupkan kawasan sekitar.
Sriwono menyebut model pembinaan berbasis komunitas ini akan diperluas. Beberapa komunitas lain seperti skateboard, futsal, dan olahraga tradisional masuk dalam pemetaan.
BACA JUGA:Amankan Wilayah Saat Ramadan, Kapolres Kaur Pimpin Patroli Pengamanan
BACA JUGA:Amankan Wilayah Saat Ramadan, Kapolres Kaur Pimpin Patroli Pengamanan
"Pemuda adalah aset daerah. Kalau ruangnya kita siapkan, pembinaannya kita perkuat, saya yakin mereka bisa menjadi kebanggaan Kota Bengkulu. Kami di Dispora akan terus hadir mendampingi dan memastikan potensi itu tidak sia-sia," tutup Sriwono.
Langkah ini menjadi penanda arah kebijakan Dispora Kota Bengkulu. Pembinaan pemuda tidak lagi seremonial, melainkan berbasis komunitas dan prestasi yang terukur.
Sebagai informasi tambahan, minat e-sport di Kota Bengkulu terus tumbuh, tetapi pembinaan resmi belum berjalan. Rabu 18 Februari 2026, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bengkulu mengakui keterbatasan anggaran dan belum adanya data atlet terstruktur menjadi hambatan utama.
Cabang olahraga berbasis gim digital mulai dilirik sebagai potensi prestasi baru. Namun hingga kini, belum ada program pembinaan yang benar-benar berjalan di tingkat kota.
Subkoordinator Pelatih Olahraga Bidang Prestasi Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bengkulu, Silvia Agustina, mengatakan fenomena ini tidak bisa diabaikan.
"Kalau tidak salah, sekitar dua tahun lalu pernah ada rencana. Tapi memang belum berjalan karena berbagai pertimbangan," ujar Silvia, Kamis 19 Februari 2026.
Sekitar dua tahun lalu, Dispora sempat merancang kegiatan pembinaan untuk gim kompetitif seperti Mobile Legends dan beberapa gim populer lain. Rencana itu tidak berlanjut.
Kendala terbesar ada pada pembiayaan. E-sport membutuhkan dukungan teknologi yang tidak murah. Perangkat komputer, peralatan pendukung, hingga jaringan internet berkecepatan tinggi harus tersedia.
"Pernah ada rencana event, tapi akhirnya batal karena anggarannya cukup besar. Semua berbasis IT, harus sewa PC, alat pendukung, dan lainnya. Sementara anggaran yang tersedia belum mencukupi," jelasnya.
Silvia menyebut alokasi dana yang pernah disiapkan jauh dari kebutuhan riil. Hitungan internal menunjukkan dana itu belum memadai.
"Secara hitungan, anggaran yang ada mungkin hanya sekitar lima persen dari kebutuhan total. Jadi memang belum bisa dilaksanakan secara maksimal," katanya.