Baca Koran Harian Rakyat Bengkulu - Pilihan Utama

Pabrik Sawit PT AIP Seluma Tutup Permanen, Pekerja Terkena PHK Massal

SEPI : Terlihat aktivitas di PT AIP sudah sepi pada, Minggu 5 April 2026. FIKI/RB--

KORANRB.ID - Penutupan permanen pabrik kelapa sawit PT Agrindo Indah Persada (AIP) di Desa Tumbuan, Kecamatan Lubuk Sandi, sejak 31 Maret 2026, langsung memutus mata pencarian pekerja dan mengganggu rantai ekonomi sawit di Seluma, hanya beberapa hari usai Idul Fitri 1447 Hijriah.

Penghentian operasional pabrik ini memastikan seluruh karyawan kehilangan pekerjaan dalam waktu bersamaan. Tidak ada aktivitas produksi yang tersisa sejak akhir Maret lalu.

Wakil Manajer PT Agrindo Indah Persada (AIP), Dian Rosadi, menegaskan keputusan itu sudah final dan tidak dapat dihindari. Saat ini, perusahaan masih menyelesaikan kewajiban terhadap pekerja.

“Operasional pabrik sudah resmi dihentikan per 31 Maret. Seluruh karyawan telah diberhentikan dan saat ini kami masih memproses hak-hak mereka, termasuk pesangon,” ujar Dian, Minggu 5 April 2026.

BACA JUGA:Antisipasi Musim Kemarau, BPBD Bengkulu Selatan Siaga Air Bersih

BACA JUGA:Jumlah Pemilih Bengkulu Tengah Bertambah, KPU Catat Kenaikan Triwulan I

Sejumlah pekerja mengaku sudah menerima pemberitahuan resmi terkait pemutusan hubungan kerja (PHK). Mereka kini menunggu realisasi pembayaran pesangon, di tengah kebutuhan ekonomi pasca-Lebaran.

Kondisi ini langsung berdampak ke sektor lain. Aktivitas angkutan, buruh bongkar muat, hingga pedagang sekitar pabrik ikut terhenti.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Transportasi Indonesia, Muhammad Hosen, menilai penutupan pabrik akan memperlebar tekanan ekonomi daerah yang selama ini bertumpu pada perkebunan.

“Kalau perusahaan sudah collapse, otomatis angka pengangguran akan bertambah. Ini bukan hanya soal pekerja, tapi juga ekonomi daerah secara keseluruhan,” tegasnya.

BACA JUGA:Pemkab Bengkulu Selatan Berlakukan WFH, Pejabat Eselon II Tetap Masuk

BACA JUGA:Pendaftar Lelang Jabatan Bengkulu Tengah Minim, Seleksi Berpotensi Diperpanjang

Pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) yang beroperasi sejak 2012 itu selama ini menjadi salah satu simpul utama ekonomi lokal. Selain menyerap tenaga kerja, pabrik ini juga menjadi tempat penjualan hasil panen petani sawit di sekitar wilayah tersebut.

Dengan berhentinya operasional, petani kini kehilangan akses pengolahan yang dekat. Distribusi hasil kebun berpotensi tersendat dan biaya angkut meningkat.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan