Tradisi Sekaten, Jejak Budaya Kerajaan yang Terus Hidup di Tengah Modernitas
ARAKAN: Seserahan yang dibawa mengelilingi kota setiap pelaksanaan Sekaten--IG/SC.Instanusantararaya
KORANRB ID - Budaya Sekaten mengajak ribuan warga memadati kawasan alun-alun untuk mengikuti rangkaian perayaan yang telah berlangsung turun-temurun sejak masa kerajaan Jawa.
Tradisi yang diyakini bermula dari era Kesultanan Demak ini hingga kini terus dipertahankan, terutama oleh masyarakat Yogyakarta dan Surakarta, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah penyebaran Islam sekaligus perayaan budaya yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat. Meskipun zaman telah berubah, Sekaten tetap menjadi magnet yang mengundang jutaan pengunjung setiap tahunnya.
Sekaten dikenal sebagai tradisi tahunan yang digelar untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun bagi masyarakat Jawa, perayaan ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah rangkaian budaya yang menyatukan unsur spiritualitas, kesenian, dan nilai-nilai lokal yang telah hidup ratusan tahun.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Sekaten tetap dianggap sebagai simbol kontinuitas sejarah, memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat bertahan dengan karakter aslinya meski diterpa gelombang perubahan.
BACA JUGA:Angklung dan Gamelan, Warisan Musik Nusantara yang Tak Lekang oleh Waktu
BACA JUGA:Bukan Sekadar Makanan: Lemea, Cermin Budaya Masyarakat Rejang yang Tak Lekang!
Puncak perhatian pada tradisi ini biasanya dimulai dengan prosesi boyongan gamelan pusaka milik keraton menuju alun-alun. Dua set gamelan, yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo, menjadi ikon utama dalam rangkaian ini.
Keduanya dipercaya memiliki nilai sakral yang tinggi, sehingga setiap pemindahan gamelan selalu dilakukan dengan tata cara khusus. Ribuan warga berdesakan di sepanjang rute, ingin menyaksikan langsung prosesi yang dianggap membawa berkah ini. Suara gamelan yang mengalun menjadi penanda dimulainya rangkaian perayaan yang berlangsung selama beberapa hari.
Di alun-alun, suasana meriah langsung terasa. Lapak pedagang memenuhi hampir seluruh sudut, menawarkan berbagai panganan tradisional, mainan anak-anak, hingga kerajinan khas daerah.
Sekaten memang dikenal sebagai ruang bertemunya budaya dan ekonomi, di mana masyarakat tidak hanya datang untuk berziarah tradisi tetapi juga berbelanja, bersantai, atau sekadar menikmati suasana malam yang penuh cahaya lampu pasar rakyat.
BACA JUGA:Asal Usul dan Warisan Budaya Suku Asmat yang Mendunia, Asli dari Papua
BACA JUGA:Mengenal Gegerit, Budaya Unik Masyarakat Bengkulu Selatan Dalam Acara Pernikahan
Kehadiran wahana permainan membuat Sekaten selalu menjadi ajang yang dinanti keluarga, terutama bagi anak-anak yang merasakan euforia khas perayaan rakyat.
Selain gemerlap pasar malam, Sekaten juga menyuguhkan berbagai pertunjukan seni seperti wayang kulit, penampilan tari tradisional, hingga musik gamelan yang dimainkan secara rutin di halaman masjid atau pelataran keraton.