Jejak Kesetiaan Baduy dalam Prosesi Sakral Seba Banten
BADUY: Suku baduy berjalan menuju pusat pemerintahan.--SC/IG.irawanema
KORANRB.ID - Tradisi budaya Seba Banten kembali menjadi sorotan ketika ratusan masyarakat adat Baduy dari pedalaman Kabupaten Lebak melakukan perjalanan panjang menuju pusat pemerintahan Banten untuk menyerahkan hasil bumi sebagai simbol bakti, persaudaraan dan pengingat hubungan harmonis antara rakyat dan pemimpinnya.
Prosesi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun ini terus dipertahankan sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur, sekaligus penanda bahwa masyarakat adat tetap memegang teguh nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran dan ketertiban dalam kehidupan mereka.
Seba Banten berasal dari tradisi lama yang dilakukan masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar setelah melewati masa Kawalu, yaitu masa puasa adat yang berlangsung selama tiga bulan.
Setelah masa sakral itu selesai, masyarakat adat melaksanakan Seba sebagai bentuk penyampaian rasa syukur serta harapan agar kehidupan mereka senantiasa selaras dengan alam.
BACA JUGA:Indonesia Menjadi Negara dengan Gunung Api Terbanyak di Dunia
Prosesi Seba bukan sekadar seremonial budaya, tetapi mengandung filosofi mendalam bahwa manusia harus tetap rendah hati dan menjaga hubungan baik dengan sesama, termasuk dengan pemerintah yang dianggap sebagai “orang tua” yang membimbing kehidupan masyarakat adat.
Perjalanan Seba dimulai dari kediaman masyarakat Baduy di Kanekes. Mereka berjalan kaki puluhan kilometer melewati berbagai medan, dari perbukitan hingga kawasan perkotaan.
Meski kondisi cuaca sering kali tak menentu, masyarakat Baduy tetap melangkah tanpa keluhan. Mereka membawa hasil bumi seperti padi, pisang, gula aren serta produk pertanian lain yang menjadi simbol ketulusan dan kerja keras.
Bagi masyarakat Baduy, berjalan kaki bukan sekadar kewajiban adat, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap alam dan ajaran leluhur yang melarang penggunaan alat-alat modern dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA:Harmoni Antara Manusia, Tuhan, dan Alam! Berikut 6 Budaya Bali
Setibanya di pusat pemerintahan, mereka disambut hangat oleh masyarakat dan aparat setempat. Prosesi penyerahan hasil bumi dilakukan dengan penuh kesederhanaan.
Tidak ada kemewahan, tidak ada hiasan berlebihan, hanya pesan moral yang kuat bahwa kesederhanaan adalah bagian dari identitas budaya yang harus tetap dijaga.
Dalam prosesi tersebut, tokoh adat selalu menyampaikan pesan agar pemerintah tetap melindungi alam, hutan dan lingkungan tempat tinggal masyarakat Baduy. Mereka menekankan bahwa kelestarian alam menjadi bagian penting dari keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Selain menjadi momen kultural, Seba Banten juga menggerakkan ekonomi lokal. Tingginya antusiasme masyarakat yang menonton prosesi ini menciptakan perputaran ekonomi bagi pelaku usaha kecil, baik pedagang makanan, pengrajin tradisional, hingga pelaku wisata budaya.