Baca Koran Harian Rakyat Bengkulu - Pilihan Utama

Semendo dalam Budaya Rejang, Ketika Rumah Menjadi Pilihan Cinta dan Kehidupan!

FILOSOFI HISUP: Semendo, merupakan bagian dari filosofi hidup yang telah diwariskan berabad-abad.--MUHARISTA DELDA/RB

KORANRB.ID - Pernahkah kamu membayangkan sebuah pernikahan di mana pihak laki-laki justru yang pindah dan tinggal di rumah keluarga perempuan? Atau sebaliknya, pasangan suami-istri bebas menentukan di mana mereka ingin membangun kehidupan? 

Dalam budaya masyarakat Rejang di Bengkulu, konsep ini bukan hal aneh, melainkan bagian dari filosofi hidup yang telah diwariskan berabad-abad. Budaya ini disebut “semendo” dan memiliki nilai sosial yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat tinggal.

Bayangkan sebuah budaya di mana keputusan tinggal setelah menikah bukan kewajiban, melainkan pilihan yang mencerminkan cinta, kearifan dan keseimbangan. 

Dalam tradisi Rejang, semendo merupakan salah satu bentuk perkawinan yang paling dikenal. Inti dari sistem ini adalah bahwa setelah menikah, suami pindah ke rumah keluarga istri. Di sini, ia hidup bersama orang tua mertua dan menjadi bagian dari keluarga besar mereka.

BACA JUGA:Mengejutkan! Ayam Bisa Bicara dengan 30 Suara dan Memiliki Empati Layaknya Manusia

Bentuk semendo seperti ini dikenal sebagai “semendo semaku”, yaitu pola yang mirip dengan sistem matrilokal. Kedudukan suami tetap dihormati, tetapi ia tidak menjadi pewaris harta keluarga istri. 

Sebaliknya, ia lebih berperan sebagai tamu terhormat yang diberikan ruang untuk membangun keluarga kecilnya di dalam lingkungan keluarga istri.

Konsep ini muncul dari prinsip menjaga kesinambungan garis perempuan, terutama dalam hal pewarisan rumah dan tanah. Dengan menetapkan bahwa suami tinggal di rumah istri, keluarga perempuan dapat memastikan stabilitas ekonomi dan sosial tetap terjaga.

Meskipun tinggal di rumah istri, suami tetap memikul perannya sebagai kepala keluarga kecil. Ia mengurus nafkah, menjaga kehormatan istri dan tetap memiliki hubungan dengan keluarga asalnya. Tidak jarang pula, suami membantu pekerjaan keluarga istri, terutama dalam kegiatan pertanian atau adat.

BACA JUGA:5 Tradisi Unik Perayaan Natal di Indonesia yang Tidak Ditemukan di Negara Lain

Menariknya, hubungan kekeluargaan menjadi sangat kuat dalam sistem semendo. Mertua memiliki peran besar dalam mendukung rumah tangga anak mereka, sementara suami mendapatkan wadah baru untuk beradaptasi dan membangun kedekatan emosional dengan keluarga barunya.

Berbeda dari semendo semaku, ada pula bentuk “semendo rajo-rajo”, yaitu sistem perkawinan yang memberi kebebasan penuh kepada pasangan untuk menentukan ingin tinggal di keluarga siapa setelah menikah. Bisa bersama keluarga istri, bisa juga bersama keluarga suami, atau bahkan membangun rumah baru secara mandiri.

Sistem ini dianggap lebih fleksibel dan kerap dipilih oleh pasangan muda yang ingin mandiri. Filosofi di balik semendo rajo-rajo adalah keseimbangan dan kebebasan.

Tidak ada kewajiban adat yang memberatkan salah satu pihak, dan keputusan diambil berdasarkan kesepakatan serta kenyamanan pasangan.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan