Baca Koran Harian Rakyat Bengkulu - Pilihan Utama

Dentuman Ramadan, Jejak Sejarah Tradisi Meriam Bambu di Nusantara

MERIAM: Permainan banyak dimainkan saat bulan puasa--

KORANRB.ID - Tradisi bermain meriam saat bulan Ramadan menjadi salah satu warna khas dalam menyemarakkan suasana puasa di berbagai daerah di Indonesia.

Dentuman meriam yang menggema menjelang berbuka puasa atau saat malam takbiran bukan sekadar bunyi keras yang memecah kesunyian, tetapi menyimpan sejarah panjang yang berakar dari budaya lokal dan pengaruh masa lampau.

Permainan meriam, yang di sejumlah daerah dikenal dengan sebutan meriam bambu atau meriam karbit, hingga kini masih bertahan sebagai bagian dari tradisi masyarakat dalam menyambut bulan suci.

Sejarah mencatat bahwa penggunaan meriam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari masa kolonial, ketika bangsa Eropa seperti Portugis dan Belanda membawa teknologi persenjataan, termasuk meriam, ke wilayah kepulauan ini.

BACA JUGA:Otopsi! Siang Ini Makam Gita Kepahiang Dibongkar, Tewas Kesetrum Jerat Babi

Pada masa itu, meriam digunakan untuk kepentingan perang maupun pertahanan benteng. Kota-kota pelabuhan seperti Pontianak dan Palembang menjadi saksi bagaimana meriam digunakan dalam konteks militer dan kerajaan. Dari sinilah masyarakat mulai mengenal bentuk dan suara dentuman meriam.

Seiring waktu, fungsi meriam mengalami pergeseran. Masyarakat lokal kemudian berinovasi dengan membuat versi sederhana menggunakan bahan yang mudah ditemukan, terutama bambu.

Meriam bambu dibuat dari batang bambu berdiameter besar yang dilubangi dan diberi bahan bakar seperti karbit atau minyak tanah untuk menghasilkan ledakan suara. Tradisi ini berkembang pesat karena pembuatannya relatif mudah dan tidak membutuhkan teknologi rumit.

Dentuman meriam bambu menjadi simbol kegembiraan dan penanda waktu berbuka sebelum pengeras suara masjid tersebar luas.

BACA JUGA:Lagi, Tim IZI Bengkulu Salurkan 104 Paket Sembako untuk Masyarakat 6 Desa di Pulau Enggano

Di Kalimantan Barat, terutama di Pontianak, tradisi meriam karbit bahkan menjadi agenda budaya tahunan yang dinantikan. Permainan meriam karbit biasanya digelar di tepi Sungai Kapuas dan telah menjadi daya tarik wisata religi setiap Ramadan.

Dentuman yang saling bersahutan menciptakan suasana meriah, sekaligus mempererat kebersamaan warga. Tradisi serupa juga ditemukan di Palembang, di mana meriam bambu dimainkan anak-anak dan remaja sebagai bentuk ekspresi kegembiraan menyambut waktu berbuka.

Asal usul tradisi ini juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat tempo dulu untuk mengetahui waktu berbuka puasa. Sebelum adanya jam digital dan pengeras suara, dentuman meriam dijadikan penanda bahwa matahari telah terbenam.

Suara kerasnya mampu menjangkau wilayah yang luas, sehingga efektif sebagai alat komunikasi tradisional. Dalam perkembangannya, fungsi tersebut berubah menjadi simbol semarak Ramadan dan bagian dari permainan rakyat yang turun-temurun.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan