BI Diproyeksikan Naikkan Suku Bunga, Akibat Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Chef Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto.-foto: infobanknews.com/koranrb.id-

KORANRB.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tingginya inflasi, dan higher for longer suku bunga acuan bank sentral dunia meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.

Dampaknya, nilai tukar Rupiah tertekan akibat dolar Amerika Serikat (AS) alias USD terus menguat.

Butuh upaya stabilisasi Bank Indonesia (BI) untuk meredam gejolak moneter dalam negeri.

Chef Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto, Rully menyatakan, terdapat ruang bagi BI untuk menaikkan suku bunga acuan.

Mengingat, tekanan global yang cukup besar terhadap nilai tukar Rupiah.

BACA JUGA:Kasus TPPO Terus Meningkat, Tahun 2023 Ada 2.673 Kasus

Depresiasi yang lebih dalam tentu menjadi prioritas utama bank sentral saat ini.

“Kalau menurut saya berisiko apabila BI tidak menaikkan, itu bisa berdampak ke Rupiah. Mungkin bisa mencapai Rp 16.400. Dan ini yang harus sangat dihindari saat ini. Jadi mau tidak mau saya rasa BI harus menaikkan suku bunga acuannya,” terang Rully saat ditanyai koran ini usai media day Mirae Asset Sekuritas, Selasa 23 April 2024.

Meskipun, lanjut dia, keputusan tersebut tidak otomatis membuat rupiah akan menguat ke bawah Rp 16 ribu per USD.

Apalagi, jumlah cadangan devisa terus tergerus.

Per Maret 2024, posisi cadangan devisa sebesar USD 140,4 miliar.

BACA JUGA:PT. Indofood Buka Lowongan Kerja, Ini Formasi yang Dibutuhkan

Berkurang USD 4,7 miliar sepanjang tahun ini.

Cadangan devisa mayoritas digunakan untuk melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan