
Jika dilihat secara kumulatif, total ekspor nonmigas Januari-Februari 2025 tercatat mencapai USD 43,41 miliar, meningkat 9,16 persen dibanding periode tahun sebelumnya (CtC). Peningkatan ekspor tersebut ditopang penguatan ekspor sektor nonmigas 10,92 persen menjadi USD 41,21 miliar. Sementara itu, ekspor sektor migas turun 15,82 persen menjadi sebesar USD 2,20 miliar.
Sementara, pada Februari 2025, impor Indonesia tercatat sebesar USD 18,86 miliar. Nilai ini naik 5,18 persen dibandingkan Januari 2025 (MoM) dan naik 2,30 persen dibandingkan Februari 2024 (YoY). Bila dibandingkan dengan Januari 2025, kenaikan impor Februari 2025 terjadi baik pada sektor nonmigas sebesar 3,52 persen maupun pada migas sebesar 15,50 persen (MoM).
Secara tahunan, impor nonmigas naik sebesar 3,47 persen sementara impor migas turun 3,77 persen (YoY).
Mendag memaparkan, kinerja impor Februari 2025 masih didominasi bahan baku/penolong dengan pangsa 73,90 persen, diikuti barang modal 18,31 persen dan barang konsumsi 7,79 persen. Pada Februari 2025, impor bahan baku/penolong dan barang modal meningkat masing-masing sebesar 7,44 persen dan 4,13 persen (MoM).
BACA JUGA:Musrenbang Kabupaten Kaur, 5 Program Jadi Prioritas Pembangunan 2026
BACA JUGA:Revitalisasi Pelabuhan Pulau Baai, BI Bengkulu: Optimistis Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Kenaikan impor tersebut sejalan dengan perkembangan industri manufaktur yang sedang ekspansif yang terlihat dari naiknya Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia di Februari 2025 menjadi 53,6.
Di sisi lain, impor barang konsumsi justru tercatat turun 10,61 persen (MoM).Penurunan daya beli, yang diindikasikan oleh melemahnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 127,2 pada Januari 2025 menjadi 126,4 pada Februari 2025, merupakan salah satu faktor turunnya impor barang konsumsi.
Bahan baku/penolong yang impornya naik signifikan, antara lain, logam mulia, minyak mentah, batu bara, bijih besi, dan gandum.
Sementara itu, impor barang modal yang naik tinggi adalah ponsel pintar,instrumen navigasi, personal computer, dan kendaraan pengangkut barang.
Di sisi lain, impor barang konsumsi yang turun adalah daging lembu beku, beras, jeruk mandarin, apel, dan cabai kering.
BACA JUGA:Target Bantu Rakyat, Gubernur Helmi Rangkul Insan Media
Beberapa produk impor nonmigas dengan kenaikan tertinggi pada Februari 2025 ini, antara lain, logam mulia dan perhiasan/permata (HS 71) sebesar 110,26 persen; bijih logam, terak, dan abu (HS 26) 88,86 persen; bahan bakar mineral (HS 27) 78,65 persen; gula dan kembang gula (HS 17) 49,24 persen; sertaperangkat optik, fotografi, dan sinematografi (HS 90) 46,18 persen (MoM).
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia didominasi Tiongkok, Jepang, dan Thailand dengan total pangsa 51,12 persen dari total impor nonmigas Februari 2025.
Beberapa negara asal impor nonmigas dengan kenaikan tertinggi, di antaranya adalah Argentina 150,68 persen, Swiss 140,77 persen, Arab Saudi 79,48 persen, Australia 73,59 persen, dan Turki 63,78 persen (MoM). Secara kumulatif untuk periode Januari-Februari 2025, total impor mencapai USD 36,80 miliar, turun 0,36 persen (CtC).