Pendaki Bukit Kaba Tetap Antusias Sambut HUT RI ke-80 di Tengah Selimut Kabut Tebal
MENUTUPI: Pemandangan kabut yang menutupi area kawa hidup Bukit Kaba dan ada berberapa pendaki yang sedang beristirahat, Pada Sabtu, 16 Agustus 2025.--foto : Hasyim
KORANRB.ID - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, Bukit Kaba kembali dipenuhi oleh antusias ratusan pendaki dari berbagai daerah mulai Sabtu malam.
Bukit yang terletak di Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong ini menyuguhkan suasana alam yang unik dan syahdu. Kabut tebal menyelimuti hampir seluruh area puncak selama dua hari terakhir, menciptakan pemandangan luar biasa yang oleh para pendaki dijuluki “tembok kabut”.
Fenomena ini menjadi latar belakang perayaan kemerdekaan yang sarat makna. Meski sebagian pendaki merasa kecewa tidak bisa melihat panorama puncak secara utuh, tak sedikit pula yang merasa perjalanan tersebut tetap bermakna dan layak dikenang.
Salah satu pendaki asal kota bengkulu, Dian Nita (20) mengaku sedikit kecewa saat sampai di puncak. Ia mendaki bersama tiga rekannya pada dini hari dan tiba di puncak sekitar pukul 11.00 WIB, saat kabut sedang sangat tebal.
BACA JUGA:Destinasi Wisata Keluarga yang Instagramable di Wonosobo! Berikut 4 Fakta Taman Langit Dieng
“Sebenarnya ingin banget lihat kawah dari atas, katanya indah banget. Tapi sampai atas kabut semua, putih total. Sedikit sedih sih karena tujuan awalnya pengin lihat kawa hidup sama mau ke bukit gajah,” kata Dian Saat diwawancarai Sabtu, 16 Agustus 2025.
Namun, Dian tetap bersyukur karena bisa menyelesaikan pendakian dengan selamat,
“Ya, meskipun enggak dapat view, setidaknya bisa sampai puncak. Itu juga pencapaian. Bukan cuma soal foto, tapi soal pengalaman,” tambahnya.
Ia dan timnya langsung turun kembali ke bawah setelah beristirahat sebentar di puncak. Meskipun singkat, ia mengaku akan kembali lagi di lain waktu.
Sementara itu, rombongan lain memilih mendirikan tenda dan bermalam di area perkemahan tidak jauh dari puncak. Salah satunya adalah Yulia Nurika (28), pendaki asal Kepahiang yang datang bersama komunitas pecinta alam.
“Kami sampai sore, langsung disambut kabut. Malam harinya, kabut semakin tebal” ujarnya
Ia menyebut bahwa suasana malam di puncak yang diselimuti kabut dan hening total, menjadi momen paling reflektif yang pernah ia rasakan selama mendaki, “Biasanya kalau ramai, kita foto-foto atau ngobrol sampai malam. Tapi kali ini, semua lebih tenang, kata Yulia
Meski begitu, Yulia mengingatkan bahwa suhu di malam hari cukup ekstrem. Thermometer digital yang dibawa salah satu rekannya menunjukkan suhu 11°C pada pukul 03.00 dini hari. Tanpa sleeping bag dan perlengkapan yang memadai, hipotermia bisa mengintai siapa saja.