Angka Kesehatan Mental di Lebong Masih Tinggi
BERKELIARAN: Tampak ODGJ yang berjalan tepat di depan ULP PLN Muara Aman, Lebong.--
TUBEI – Permasalahan kesehatan jiwa di Kabupaten Lebong masih menjadi perhatian serius, karena dinilai tergolong masih cukup tinggi.
Berdasarkan pendataan terbaru dari tim pendamping rehabilitasi Kementerian Sosial, tercatat 140 warga di wilayah tersebut masuk dalam kategori Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Data itu menunjukkan bahwa penyebaran kasus ODGJ meliputi seluruh 12 kecamatan, mulai dari daerah pedesaan hingga pusat pemerintahan kabupaten.
Informasi ini disampaikan oleh Pendamping Rehabilitasi Kementerian Sosial, Oktris Ewika, mewakili Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Lebong, Drs. Ahmad Ghozali.
“Ada sekitar 140 warga yang teridentifikasi mengalami gangguan jiwa, tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Lebong,” ujar Oktris.
Dari jumlah tersebut, lima orang di antaranya masih dalam kondisi terpasung. Oktris menjelaskan bahwa tindakan itu bukan berasal dari kebijakan pemerintah, melainkan merupakan keputusan keluarga pasien yang merasa kesulitan mengendalikan perilaku anggota keluarganya.
“Sekitar lima pasien masih dipasung atas keputusan keluarga. Biasanya karena kondisi mereka belum stabil dan kerap membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya.
BACA JUGA:Taluak Sikulo, Teluk Sunyi yang Menyimpan Keindahan Tak Terlukiskan
BACA JUGA:Runbo M1 Ponsel Pria Petualang, Bisa Diandalkan di Lokasi Ekstrem
Meski demikian, pihak Dinas Sosial memastikan seluruh pasien ODGJ di Lebong tetap mendapatkan layanan pengobatan dan pendampingan psikososial secara berkala.
Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Puskesmas, rumah sakit jiwa, dan lembaga sosial yang berkompeten di bidang kesehatan mental.
“Pendampingan dan pengobatan tetap berjalan. Beberapa pasien juga sudah kami rujuk ke rumah sakit jiwa, dan sebagian menunjukkan perkembangan positif,” tambah Oktris.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemulihan pasien ODGJ tidak hanya bergantung pada terapi medis, melainkan juga memerlukan dukungan emosional dari keluarga.
Lingkungan terdekat, menurutnya, berperan penting dalam membantu pasien kembali beradaptasi dan berfungsi sosial di masyarakat.
“Dukungan keluarga menjadi kunci utama keberhasilan rehabilitasi. Kami berharap semua pihak ikut terlibat agar pasien bisa pulih dan kembali beraktivitas secara normal,” tutupnya.